Sukses Terselenggara di Jakarta, Mengapa Bekraf Habibie Festival Justru Pindah ke Karanganyar?

Sejumlah pelajar melihat replika mobil balap F1 milik Rio Haryanto di Bekraf Habibie Festival yang diselenggarakan di De Tjolomadoe, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (20/4/2018).

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Efrem Siregar

TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Bekraf Habibie Festival 2018 menyapa masyarakat Solo dan sekitarnya di De Tjolomadoe, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Pantauan TribunSolo.com, di hari pertama, pengunjung pameran dirgantara, kuliner, fashion, dan virtual reality ini didominasi para pelajar sekolah.

Pebalap Rio Haryanto terlihat hadir memberikan motivasi dan menceritakan pengalamannya selama berkecimpung di dunia balap, Jumat (20/4/2018).

Pameran juga menyediakan satu ruang untuk dijadikan tempat bertenggernya replika mobil balap F1 Rio Haryanto.

Tentunya, penampakan jet darat ini menarik perhatian para pengunjung dan mengabadikannya lewat kamera ponsel.

Festival ini terbuka untuk siapa saja yang tertarik pada inovasi dan gagasan.

Dari keterangan Sachin Gopalan, CEO Orbit Ventura sekaligus penyelenggara Bekraf Habibie Festival 2018, pada hari kedua, pameran ini akan dihadiri oleh mahasiswa, lalu pada hari terakhir, Minggu (22/4/2018), pameran akan mengundang sejumlah keluarga Habibie.

Di hari terakhir itu juga, panitia mendatangkan putra BJ Habibie, Ilham Habibie ke dalam festival.

"Kami di sini untuk masyarakat Solo Raya."

"Karya di sini datang dari Solo raya," kata Sachin kepada awak wartawan, Jumat (20/4/2018)

"Ini kewajiban kami untuk menyediakan panggung kepada masyarakat supaya bisa berpartisipasi," katanya.

Bekraf Habibie Festival kali pertama digelar pada 2016 silam untuk memperingati ulang tahun ke-80 BJ Habibie di Jakarta.

Sachin mengaku, saat itu dia memprediksi kehadiran peserta hanya mencapai 10 ribu orang.

Namun, yang terjadi sebaliknya, dalam empat hari, menurutnya, pengunjung Bekraf Habibie Festival mencapai 60 ribu.

BJ Habibie pun menyarankan agar festival ini digelar setiap tahunnya dan usulan ini direalisasikan.

Pada 2017, Bekraf Habibie Festival di Pekan Raya Jakarta, tercatat mendatangkan pengunjung mencapai 77 ribu orang.

Mungkin kota Jakarta adalah salah satu indikator mengapa festival ini ramai dikunjungi.

Lalu, mengapa Sachin mempertaruhkan penyelenggaraan festival dengan mengadakannya ke daerah lain di luar Jakarta?

"Kalau sudah berhasil di Jakarta, bawa ini ke daerah," kata Sachin mengulang pesan Habibie kepadanya.

Habibie menilai festival ini perlu diselenggarakan ke berbagai daerah lantaran tokoh-tokoh dan inovator kini banyak ditemukan di daerah-daerah di Indonesia.

Sachin pun mengatakan sudah berencana membawa Bekraf Habibie Festival ke Papua.

Selain itu, secara teknis, Sachin mengatakan De Tjolomadoe yang menjadi lokasi festival cocok untuk kegiatan eksibisi.

"Suasananya sangat cocok untuk acara seperti ini, terlihat artistik," katanya.

Sachin pun tidak sia-sia telah mampir di Karanganyar.

Ia mengungkapkan, dari catatan kunjungan di hari pertama festival, jumlah pengunjung terhitung sudah mencapai lebih dari 10 ribu orang.

"Ini responsnya luar biasa, kalau kami (bandingkan) daerah lain hanya sekitar 5-10 ribu," tuturnya kepada TribunSolo.com, Jumat (20/4/2018). (*)


Artikel ini telah tayang di Tribunsolo.com dengan judul Sukses Terselenggara di Jakarta, Mengapa Bekraf Habibie Festival Justru Pindah ke Karanganyar?, http://solo.tribunnews.com/2018/04/20/sukses-terselenggara-di-jakarta-mengapa-bekraf-habibie-festival-justru-pindah-ke-karanganyar.
Penulis: Efrem Limsan Siregar
Editor: Hanang Yuwono