Kemandirian yang Tak Kenal Gender

Bertempat di Panggung Utama Hall B1 BEKRAF Habibie Festival 2017, pada Jumat (11/8) siang berlangsung sebuah talkhow berjudul “Perempuan Di Antara Budaya, Teknologi, dan Inovasi.” Bincang-bincang ini menghadirkan Alamanda Shantika, sang pencipta aplikasi Gojek yang kini bergiat di Binar Akademi, Adhita Irawati, Vice President Corporate Communication PT Telkomsel, Lina Handianto, Komisaris Utama Batik Keris, dan Christa Sabathali, Senior Business Development LINE. Rahima Abdulrahim, Executive Director The Habibie Center, menjadi moderator acara.

Bincang-bincang dimulai dengan kisah setiap panelis mengenai keterlibatan masing-masing dalam kegiatan di bidang teknologi dan inovasi. “Saya sejak kecil memang hobi bongkar-pasang komputer,” kisah Alamanda. Ia lalu mantap memilih dunia Teknologi Informatika dan berkarier di Gojek karena selain TI adalah panggilan hatinya, ia melihat aplikasi Gojek ciptaannya memberi manfaat untuk orang banyak. “Waktu saya diajak Nadim (Nadim Makarim, CEO Gojek), saya sudah bekerja di sebuah bank dan cukup nyaman di sana. Bahkan ibu saya meragukan keputusan saya pindah karena ketika itu kantor Gojek masih jelek sekali.”

Di lain kesempatan Adhita mengungkapkan bahwa saat ini teknologi sudah menjadi keseharian bagi kaum perempuan, bahkan menjadi tempat berkarier. “Dalam tingkatan lapis kedua manajemen di industri Teknologi Informatika sekarang didominasi kaum perempuan,” ungkap perempuan dengan latar pendidikan ilmu Hubungan Internasional ini. Menurutnya, hal tersebut disebabkan sifat perempuan yang multitasking, teliti, dan sensitif terhadap sekelilingnya, sehingga produk-produk yang lahir dari industri ini menjadi humanis.

Hal senada diutarakan Christa. “Background saya ekonomi. Tapi saya ingin berkecimpung di dunia Teknologi Informasi. Akhirnya saya mendalami sisi lainnya, yakni content.” Baginya, semua bidang dan ilmu pengetahuan bisa dikaitkan dengan teknologi karena sejatinya teknologi tercipta untuk memudahkan hidup manusia.

“Teknologi dan budaya selayaknya berjalan selaras,” Lina Handianto menekankan. Hal itu pulalah yang diterapkannya dalam pengelolaan Batik Keris, usaha keluarga yang sudah berusia 100 tahun. Bersama suami yang juga mendalami usaha batik, keduanya dengan sepenuh hati memberikan waktu dan tenaga memajukan kebudayaan asli Indonesia tersebut. “Kami bekerja sama dengan UKM-UKM yang ada di pelosok daerah, meningkatkan keterampilan mereka dan mendukungnya dari sisi teknologi dan inovasi.”

Di sela bincang-bincang, moderator menyampaikan bahwa Batik Keris pada hari itu merilis “Batik Keris Online” sebagai online shopping platform bagi masyarakat yang ingin membeli produk-produk batiknya. Batik Keris Online menjadi perwujudan keselarasan teknologi dan budaya di era yang modern.

Di akhir talkshow, Pendiri dan Ketua Gerakan Berkarya!Indonesia, Ilham Akbar Habibie, menganugerahi kelima pengisi acara dengan penghargaan. Dalam pidata singkatnya, Ilham merasa bangga dengan kiprah kelima sosok perempuan tersebut, dan menyatakan bahwa kaum perempuan wajib berdaya dan berkontribusi nyata ke masyarakat, serta menjadi pribadi yang mandiri. “Karena, kemandirian itu tidak mengenal gender,” tutupnya. [Ciptanti Putri]